TUGAS KELOMPOK IBD
Nama : Arzenico Apta Gustafausta
Kelas : 1ID09
NPM : 31418150
PENGERTIAN
1.PENGERTIAN MANUSIA
Nama : Arzenico Apta Gustafausta
Kelas : 1ID09
NPM : 31418150
PENGERTIAN
1.PENGERTIAN MANUSIA
Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu"), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi yang, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok, dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.
2.PENGERTIAN
KEINDAHAN
Keindahan atau keelokan merupakan
sifat dan ciri dari orang, hewan, tempat, objek, atau gagasan yang memberikan
pengalaman persepsi kesenangan, bermakna, atau kepuasan. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia, keindahan diartikan sebagai keadaan yang enak dipandang, cantik, bagus
benar atau elok. Keindahan dipelajari sebagai bagian dari estetika, sosiologi,
psikologi sosial, dan budaya. Sebuah "kecantikan yang ideal" [1] adalah sebuah entitas yang dikagumi, atau
memiliki fitur yang dikaitkan dengan keindahan dalam suatu budaya tertentu,
untuk kesempurnaannya
3.HUBUNGAN
MANUSIA DAN KEINDAHAN
Hubungan manusia dan keindahan adalah karena manusia memiliki lima komponen yang secara otomatis dimiliki ketika manusia tesebut dilahirkan. Ke-lima komponen tersebut adalah nafsu, akal, hati, ruh, dan sirri (rahasia ilahi). Dengan modal yang telah diberikan kepada manusia itulah (nafsu, akal dan hati) akhirnya manusia tidak dapat dipisahkan dengan sesuatu yang disebut dengan keindahan. Dengan akal, manusia memiliki keinginan-keinginan yang menyenangkan (walaupun hanya untuk dirinya sendiri) dalam ruang renungnya, dengn akal pikiran manusia melakukan kontemplasi komprehensif guna mencari niolai-nilai, makna, manfaat, dan tujuan dari suatu penciptaan yang endingnya pada kepuasan, dimana kepuasan ini juga merupakan salah satu indikator dari keindahan.
Akal dan budi merupakan kekayaan manusia
tidak dirniliki oleh makhluk lain. Oleh akal dan budi manusia memiliki kehendak
atau keinginan pada manusia ini tentu saja berbeda dengan “kehendak atau
keinginan” pada hewan karena keduanya timbul dari sumber yang berbeda. Kehendak
atau keinginan pada manusia bersumber dari akal dan budi, sedangkan kehendak
atau keinginan pada hewan bersumber dari naluri.
Sesuai dengan sifat kehidupan yang
menjasmani dan merohani, maka kehendak atau keinginan manusia itu pun bersifat
demikian. Jumlahnya tak terbatas. Tetapi jika dilihat dari tujuannya, satu hal
sudah pasti yakni untukmenciptakan kehidupan yang menyenangkan, yang memuaskan
hatinya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa “yang mampu menyenangkan atau memuaskan
hati setiap manusia itu tidak lain hanyalah sesuatu yang “baik”, yang “indah”.
Maka “keindahan pada hakikatnya merupakan dambaan setiap manusia; karena dengan
keindahan tu itu manusia merasakan nyaman hidupnya. Melalui suasana
. keindahan itu perasaan “(ke) manusia (annya)” tidak terganggu.
Dengan adanya keinginan-keinginan tersebut,
manusia menggunakan nafsunya untuk mendorong hasrat atau keinginan yang
dipikirkan atau direnungkan oleh sang akal tadi agar bisa terrealisasikan.
Ditambah lagi dengan anugrah yang diberikan-Nya kepada kita (manusia) yakni
berupa hati, dimana dengan hati ini manusia dapat merasakan adanya keindahan,
oleh karena itu manusia memiliki sensibilitas esthetis.
Selain itu manusia memang secara hakikat
membutuhkan keindahan guna kesempurnaan pribadinya. Tanpa estetika manusia
tidak akan sempurna, Karena salah satu unsur dari kehidupan adalah estetika.
Sedang manusia adalah mahluk hidup, jadi dia sangat memerlukan estetika ini
4.RENUNGAN
Renungan
berasal dari kata renung; artinya diam-diam memikirkan sesuatu, atau memikirkan
sesuatu dengan dalam-dalam. Renungan adalah hasil merenung. Dalam merenung
untuk menciptakan seni ada beberapa teori. Teori-teori itu ialah :
• TEORI PENGUNGKAPAN
Dalil dari teori ini ialah bahwa “Art is an expression of human feeling” ( seni adalah suatu pengungkapan dari perasaan manusia ). Teori ini terutama bertalian dengan apa yang dialami oleh seorang seniman ketika menciptakan suatu karya seni. Tokoh teori ekspresi yang paling terkenal ialah filsuf Italia Benedeto Croce (1886-1952) dengan karyanya yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris “aesthetic as Science of Expresion and General Linguistic”. Beliau antara lain menyatakan bahwa “art is expression of impressions” (Seni adalah pengungkapan dari kesan-kesan) Expression adalah sama dengan intuition. Dan intuisi adalah pengetahuan intuitif yang diperoleh melalui penghayatan tentang hal-hal individual yang menghasilkan gambaran angan-angan (images). Dengan demikian pengungkapan itu berwujud sebagai gambaran angan-angan seperti misalnya images wama, garis dan kata. Bagi seseorang pengungkapan berarti menciptakan seni dalam dirinya tanpa perlu adanya kegiatan jasmaniah keluar. Pengalaman estetis seseorang tidak lain adalah ekspresi dalam gambaran angan-angan.
• TEORI METAFISIK
Teori semi yang bercorak metafisis merupakan salah satu teori yang tertua, yakni berasal dari Plato yang karya-karya tulisannya untuk sebagian membahas estetik filsafati, konsepsi keindahan dan teori seni. Mengenai sumber seni Plato mengemukakan suatu teori peniruan (imitation theory). Ini sesuai dengan rnetafisika Plato yang mendalilkan adanya dunia ide pada taraf yang tertinggi sebagai realita Ilahi. Pada taraf yang lebih rendah terdapat realita duniawi ini yang merupakan cerminan semu dan mirip realita ilahi itu. Dan karya seni yang dibuat manusia hanyalah merupakan mimemis (timan) dari realita duniawi Sebagai contoh Plato mengemukakan ide Ke-ranjangan yang abadi dan indah sempurna ciptaan Tuhan. Kemudian dalam dunia ini tukang kayu membuat ranjang dari kayu yang merupakan ide tertinggi ke-ranjangan-an itu. Dan akhirnya seniman meniru ranjang kayu itu dengan menggambarkannya dalam sebuah lukisan. Jadi karya seni adalah tiruan dari suatu tiruan lain sehingga bersifat jauh dari kebenaran atau dapat menyesatkan. Karena itu seniman tidak mendapat tempat sebagai warga dari negara Republik yang ideal menurut Plato.
• TEORI PSIKOLOGIS
Teori-teori metafisis dari para filsuf yang bergerak diatas taraf manusiawi dengan konsepsi-konsepsi tentang ide tertinggi atau kehendak semesta umumnya tidak memuaskan, karena terlampau abstrak dan spekulatif. Sebagian ahli estetik dalam abad modem menelaah teori-teori seni dari sudut hubungan karya seni dan alam pikiran penciptanya dengan mempergunakan metode-metode psikologis. Misalnya berdasarkan psikoanalisa dikemukakan teori bahwa proses penciptaan seni adalah pemenuhan keinginan-keinginan bawah sadar dari seseorang seniman. Sedang karya seninya itu merupakan bentuk terselubung atau diperhalus yang diwujudkan keluar dari keinginan-keinginan itu. Suatu teori lain tentang sumber seni ialah teori permainan yang dikembangkan oleh Freedrick Schiller (1757-1805) dan Herbert Spencer (1820-1903).
• TEORI KESERASIAN
Keserasian berasal dari kata serasi dan dari kata dasar rasi, artinya cocok, kena benar, dan sesuai benar. Kata cocok, kena dan sesuai itu mengandung unsur perpaduan, pertentangan, ukuran dan seimbang. Dalam pengertian perpaduan misalnya, orang berpakaian hams dipadukan warnanya bagian atas dengan bagian bawah, atau disesuaikan dengan kulitnya.
• TEORI OBYEKTIF DAN TEORI SUBYEKTIF
The Liang Gie dalam bukunya garis besar estetika menjelaskan, bahwa dalam mencipta seni ada dua teori yakni teori obyektif dan teori subyektif. Salah satu persoalan pokok dari teori keindahan adalah mengenai sifat dasar dari keindahan. Apakah keindahan menampakan sesuatu yang ada pada benda indah atau hanya terdapat dalam alarn pikiran orang yang mengamati benda tersebut. Dari persoalan-persoalan tersebut lahirlah dua kelompok teori yang terkenal sebagai teori obyektif dan teori subyektif.
Pendukung teori obyektif adalah Plato, Hegel dan Bernard Bocanquat, sedang pendukung teori subyektif ialah Henry Home, Earlof Shaffesbury, dan Edmund Burke. Teori obyektif berpendapat, bahwa keindahan atau ciri-ciri yang mencipta nilai estetik adalah sifat (kualitas) yang memang telah melekat pada bentuk indah yang bersangkutan, terlepas dari orang yang mengamatinya. Pengamatan orang hanyalah mengungkapkan sifat-sifat indah yang sudah ada pada sesuatu benda dan sama sekali tidak berpengaruh untuk menghubungkan. Yang menjadi masalah ialah ciri-ciri khusus manakah yang membuat sesuatu benda menjadi indah atau dianggap bernilai estetik, salah satu jawaban yang telah diberikan selama berabad-abad ialah perimbangan antara bagian-bagian dalam benda indah itu. Pendapat lain menyatakan, bahwa nilai estetik itu tercipta dengan terpenuhinya asas-asas tertentu mengenai bentuk pada sesuatu benda.
Teori subyektif, menyatakan bahwa ciri-ciri yang menciptakan keindahan suatu benda itu tidak ada, yang ada hanya perasaan dalam din seseorang yang mengamati sesuatu benda. Adanya keindahan semata-mata tergantung pada pencerapan dari si pengamat itu. Kalaupun dinyatakan bahwa sesuatu benda mempunyai nilai estetik, maka hal itu diartikan bahwa seseorang pengamat memperoleh sesuatu pengalaman estetik sebagai tanggapan terhadap benda indah itu. Yang tergolong teori subyektif ialah yang memandang keindahan dalam suatu hubungan di antara suatu benda dengan alam pikiran seseorang yang mengamatinya seperti misalnya yang berupa menyukai atau menikmati benda itu.
• TEORI PERIMBANGAN
Teori obyektif memandang keindahan sebagai suatu kualitas dari benda-benda. Kualitas bagaimana yang menyebabkan sesuatu benda disebut indah telah dijawab oleh bangsa Yunani Kuno dengan teori perimbangan yang bertahan sejak abab 5 sebelum Masehi sampai abab 17 di Eropa. Sebagai contoh bangunan arsitektur Yunani Kuno yang berupa banyak tiang besar.
• TEORI PENGUNGKAPAN
Dalil dari teori ini ialah bahwa “Art is an expression of human feeling” ( seni adalah suatu pengungkapan dari perasaan manusia ). Teori ini terutama bertalian dengan apa yang dialami oleh seorang seniman ketika menciptakan suatu karya seni. Tokoh teori ekspresi yang paling terkenal ialah filsuf Italia Benedeto Croce (1886-1952) dengan karyanya yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris “aesthetic as Science of Expresion and General Linguistic”. Beliau antara lain menyatakan bahwa “art is expression of impressions” (Seni adalah pengungkapan dari kesan-kesan) Expression adalah sama dengan intuition. Dan intuisi adalah pengetahuan intuitif yang diperoleh melalui penghayatan tentang hal-hal individual yang menghasilkan gambaran angan-angan (images). Dengan demikian pengungkapan itu berwujud sebagai gambaran angan-angan seperti misalnya images wama, garis dan kata. Bagi seseorang pengungkapan berarti menciptakan seni dalam dirinya tanpa perlu adanya kegiatan jasmaniah keluar. Pengalaman estetis seseorang tidak lain adalah ekspresi dalam gambaran angan-angan.
• TEORI METAFISIK
Teori semi yang bercorak metafisis merupakan salah satu teori yang tertua, yakni berasal dari Plato yang karya-karya tulisannya untuk sebagian membahas estetik filsafati, konsepsi keindahan dan teori seni. Mengenai sumber seni Plato mengemukakan suatu teori peniruan (imitation theory). Ini sesuai dengan rnetafisika Plato yang mendalilkan adanya dunia ide pada taraf yang tertinggi sebagai realita Ilahi. Pada taraf yang lebih rendah terdapat realita duniawi ini yang merupakan cerminan semu dan mirip realita ilahi itu. Dan karya seni yang dibuat manusia hanyalah merupakan mimemis (timan) dari realita duniawi Sebagai contoh Plato mengemukakan ide Ke-ranjangan yang abadi dan indah sempurna ciptaan Tuhan. Kemudian dalam dunia ini tukang kayu membuat ranjang dari kayu yang merupakan ide tertinggi ke-ranjangan-an itu. Dan akhirnya seniman meniru ranjang kayu itu dengan menggambarkannya dalam sebuah lukisan. Jadi karya seni adalah tiruan dari suatu tiruan lain sehingga bersifat jauh dari kebenaran atau dapat menyesatkan. Karena itu seniman tidak mendapat tempat sebagai warga dari negara Republik yang ideal menurut Plato.
• TEORI PSIKOLOGIS
Teori-teori metafisis dari para filsuf yang bergerak diatas taraf manusiawi dengan konsepsi-konsepsi tentang ide tertinggi atau kehendak semesta umumnya tidak memuaskan, karena terlampau abstrak dan spekulatif. Sebagian ahli estetik dalam abad modem menelaah teori-teori seni dari sudut hubungan karya seni dan alam pikiran penciptanya dengan mempergunakan metode-metode psikologis. Misalnya berdasarkan psikoanalisa dikemukakan teori bahwa proses penciptaan seni adalah pemenuhan keinginan-keinginan bawah sadar dari seseorang seniman. Sedang karya seninya itu merupakan bentuk terselubung atau diperhalus yang diwujudkan keluar dari keinginan-keinginan itu. Suatu teori lain tentang sumber seni ialah teori permainan yang dikembangkan oleh Freedrick Schiller (1757-1805) dan Herbert Spencer (1820-1903).
• TEORI KESERASIAN
Keserasian berasal dari kata serasi dan dari kata dasar rasi, artinya cocok, kena benar, dan sesuai benar. Kata cocok, kena dan sesuai itu mengandung unsur perpaduan, pertentangan, ukuran dan seimbang. Dalam pengertian perpaduan misalnya, orang berpakaian hams dipadukan warnanya bagian atas dengan bagian bawah, atau disesuaikan dengan kulitnya.
• TEORI OBYEKTIF DAN TEORI SUBYEKTIF
The Liang Gie dalam bukunya garis besar estetika menjelaskan, bahwa dalam mencipta seni ada dua teori yakni teori obyektif dan teori subyektif. Salah satu persoalan pokok dari teori keindahan adalah mengenai sifat dasar dari keindahan. Apakah keindahan menampakan sesuatu yang ada pada benda indah atau hanya terdapat dalam alarn pikiran orang yang mengamati benda tersebut. Dari persoalan-persoalan tersebut lahirlah dua kelompok teori yang terkenal sebagai teori obyektif dan teori subyektif.
Pendukung teori obyektif adalah Plato, Hegel dan Bernard Bocanquat, sedang pendukung teori subyektif ialah Henry Home, Earlof Shaffesbury, dan Edmund Burke. Teori obyektif berpendapat, bahwa keindahan atau ciri-ciri yang mencipta nilai estetik adalah sifat (kualitas) yang memang telah melekat pada bentuk indah yang bersangkutan, terlepas dari orang yang mengamatinya. Pengamatan orang hanyalah mengungkapkan sifat-sifat indah yang sudah ada pada sesuatu benda dan sama sekali tidak berpengaruh untuk menghubungkan. Yang menjadi masalah ialah ciri-ciri khusus manakah yang membuat sesuatu benda menjadi indah atau dianggap bernilai estetik, salah satu jawaban yang telah diberikan selama berabad-abad ialah perimbangan antara bagian-bagian dalam benda indah itu. Pendapat lain menyatakan, bahwa nilai estetik itu tercipta dengan terpenuhinya asas-asas tertentu mengenai bentuk pada sesuatu benda.
Teori subyektif, menyatakan bahwa ciri-ciri yang menciptakan keindahan suatu benda itu tidak ada, yang ada hanya perasaan dalam din seseorang yang mengamati sesuatu benda. Adanya keindahan semata-mata tergantung pada pencerapan dari si pengamat itu. Kalaupun dinyatakan bahwa sesuatu benda mempunyai nilai estetik, maka hal itu diartikan bahwa seseorang pengamat memperoleh sesuatu pengalaman estetik sebagai tanggapan terhadap benda indah itu. Yang tergolong teori subyektif ialah yang memandang keindahan dalam suatu hubungan di antara suatu benda dengan alam pikiran seseorang yang mengamatinya seperti misalnya yang berupa menyukai atau menikmati benda itu.
• TEORI PERIMBANGAN
Teori obyektif memandang keindahan sebagai suatu kualitas dari benda-benda. Kualitas bagaimana yang menyebabkan sesuatu benda disebut indah telah dijawab oleh bangsa Yunani Kuno dengan teori perimbangan yang bertahan sejak abab 5 sebelum Masehi sampai abab 17 di Eropa. Sebagai contoh bangunan arsitektur Yunani Kuno yang berupa banyak tiang besar.
5.KESERASIAN
Apa itu keserasian? Keserasian adalah
perbandingan antar kedua belah sesuatu menjadi sesuatu yang cocok. Anda menaruh
vas bunga di atas meja ruang tamu, maka kedua hal tersebut adalah cocok. Anda
menaruh palu dan dan kunci di tempat kotak peralatan, menaruh keyboard di depan
monitor komputer, meletakkan selimut di atas kasur, itu merupakan bagian dari
ke serasian, karena menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Lain halnya
jika anda mencoba untuk menaruh palu di depan komputer, meletakkan vas di atas
selimut, dan meletakkan selimut di dalam kotak peralatan. Itu merupakan hal
yang tidak serasi.
Serasi itu bisa dikatakan bukan hanya
sesuatu yang cocok dan wajar, namun sesuatu yang memiliki nilai lebih dari
wajar.
Keserasian Berasal dari kata
"serasi" artinya cocok atau sesuai, memilki faktor perpaduan dan
keseimbangan.
Dalam hubungannya dengan keindahan, keserasian memiliki makna perpaduan antara berbagai unsur yang menjadi satu sehingga menimbulkan satu bentuk keindahan. Sehingga keserasian memiliki hubungan yang erat kaintannya dengan keindahan, tanpa adanya keserasian, keindahan tidak akan terwujud dalam sebuah karya atau benda yang diciptakan manusia dalam tujuan estetika.
Dalam hubungannya dengan keindahan, keserasian memiliki makna perpaduan antara berbagai unsur yang menjadi satu sehingga menimbulkan satu bentuk keindahan. Sehingga keserasian memiliki hubungan yang erat kaintannya dengan keindahan, tanpa adanya keserasian, keindahan tidak akan terwujud dalam sebuah karya atau benda yang diciptakan manusia dalam tujuan estetika.
Keserasian sangat berhubungan dengan
keindahan, sesuatu yang serasi akan tampak indah. Dalam keselarasan seseorang
memiliki perasaan seimbang, dan mempunyai cita rasa akan sesuatu yang berakhir
dan merasa hidup sesaat ditengah-tengah kesempurnaan yang menyenangkan hati .
Keserasian adalah kecocokan yang mengandung
unsur perpaduan, pertentangan, ukuran dan kesimbangan, yang terdiri dari:
Teori Objectif dan Teori Subjectif
Teori Objectif berpendapat bahwa keindahan atau ciri-ciri yang menciptak nilai estetika adalah sifat (kulitas) yang memang melekat dalam bentuk indah yang bersangkutan, terlepas dari orang yang mengamatinya.Pendukung teori objectif adalah Plato, Hegel
Teori Objectif berpendapat bahwa keindahan atau ciri-ciri yang menciptak nilai estetika adalah sifat (kulitas) yang memang melekat dalam bentuk indah yang bersangkutan, terlepas dari orang yang mengamatinya.Pendukung teori objectif adalah Plato, Hegel
Teori Subjectif menyatakan bahwa ciri-ciri
yang menciptakan keindahan suatu benda itu tidak ada, yang ada hanya perasaan
dalam diri sesorang yang mengamati suatu benda. Pendukung nya adalah Henry
Home, Earlof Shaffesburry
Teori Perimbangan dalam arti yang terbatas
yakni secara kualitatif yang di ungkapkan dengan angka-angka, keindahan
hanyalah kesan yang subjectif sifatnya dan berpendapat bahwa keindahan
sesungguhnya tercipta dan tidak ada keteraturan yakni tersusun dari daya hidup,
penggembaraan, pelimpahan dan pengungkapan perasaan.
Asas Keserasian
Asas Keserasian mengandung pengertian harmoni dalam interaksi antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi yang berwawasan lingkungan untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan bermanfaat tinggi.
Asas Keserasian mengandung pengertian harmoni dalam interaksi antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi yang berwawasan lingkungan untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan bermanfaat tinggi.
5.KASUS
·
TEKNOLOGI
MEMBUAT MANUSIA MERUSAK KEINDAHAN ALAM
Greenpeace
Aktivis Greenpeace menyusuri kawasan gundul
di dekat Taman Nasional Bukit Tiga, Riau. Tim Mataharimau menyaksikan langsung
kerusakan hutan di Indonesia. Greenpeace mendesak pemerintah untuk meninjau
konsesi yang ada, melindungi lahan gambut dan mendesak industri untuk
menerapkan kebijakan nol deforestasi dalam operasi mereka
TRIBUNNERS - Manusia, merupakan satu-satunya
makhluk hidup di muka Bumi yang dianugerahi akal dan kecerdasan oleh Tuhan,
oleh karena itu sudah seharusnya menjaga kekayaan alam yang ada di muka Bumi
ini.
Dalam semua ajaran agama pun, manusia
diajarkan untuk selalu menjaga kelestarian lingkungan dan keindahan alam.
Namun, beberapa manusia bertindak terlalu
cerdas dengan mengeksploitasi kekayaan yang ada di alam secara habis-habisan.
Mereka berpikir bahwa alam telah
menyediakan semua yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan mereka, sehingga
mereka pikir tidak salah jika mereka menghabiskan kekayaan yang dimiliki oleh
alam sampai tak bersisa.
Apalagi dengan bertambah pesatnya
perkembangan teknologi yang ada sekarang ini membuat mereka semakin
menjadi-jadi mengeruk kekayaan alam ini.
Salah satu contohnya adalah penebangan
hutan yang semakin cepat dikarenakan adanya teknologi berupa gergaji mesin.
Sering juga kita lihat penggunaan alat
berat untuk meratakan hutan yang lahannya akan dibuat entah itu untuk jalan
raya, perumahan, dan lain sebagainya.
Bahkan, penggunaan teknologi pada kehidupan
sehari-hari kita seperti smartphone, laptop, PC, dan lain sebagainya
secara tidak langsung ikut berkontribusi terhadap rusaknya alam. Benda-benda
tersebut jika sudah tidak terpakai, tentu akan dibuang begitu saja.
Masalahnya, benda-benda tersebut kebanyakan
berasal dari bahan yang susah sekali diuraikan, sehingga jika dibiarkan akan
menumpuk dan mengurangi keindahan lingkungan di sekitarnya.
Melihat fenomena tersebut, tentu membuat
kita bertanya-tanya, apakah dengan adanya teknologi malah membawa dampak buruk
bagi kelangsungan hidup manusia?
Tentu saja jawabannya bisa iya, bisa juga
tidak. Tergantung dari cara kita menggunakannya. Namun, jika melihat kondisi
sekarang, perkembangan teknologi malah cenderung memberikan dampak buruk bagi
manusia.
Menurut Marshall McLuhan, salah satu dosen
di University of Toronto, penemuan atau perkembangan teknologi itulah yang
telah mengubah perilaku atau budaya pada manusia, atau yang biasa disebut
sebagai Teori Determinisme Teknologi.
Mengacu pada teori tersebut, sudah jelas
bahwa teknologi berdampak besar terhadap kehidupan manusia, entah itu baik atau
buruk.
Teknologi membentuk individu bagaimana cara
berpikir, berperilaku dalam masyarakat, dan teknologi tersebut mengarahkan manusia
bergerak dari satu abad teknologi ke teknologi yang lain.
Teknologi memang mampu memberikan kemudahan
bagi manusia dalam hampir semua hal, namun melihat perilaku dan budaya
masyarakat yang ada sekarang, teknologi memberikan dampak buruk tidak hanya pada
manusia sendiri tetapi juga pada lingkungan sekitar.
Salah satu pengaruh penggunaan teknologi
yang berpengaruh besar pada kerusakan alam dan lingkungan adalah efek rumah
kaca.
Efek rumah kaca merupakan peristiwa yang
terjadi akibat pantulan panas di dalam rumah kaca yang digunakan petani untuk
menanam sayur pada musim dingin di negara yang mengenal empat musim.
Pembuatan rumah kaca ini menghasilkan gas
rumah kaca yang menyelimuti Bumi.
Panas matahari yang masuk ke Bumi
dipantulkan kembali oleh rumah kaca, namun karena adanya gas rumah kaca tadi
maka panas matahari yang sudah dipantulkan oleh rumah kaca tadi, dipantulkan
kembali ke Bumi oleh gas rumah kaca, sehingga menyebabkan panas matahari
terperangkap di Bumi dan mengakibatkan suhu Bumi meningkat.
Meningkatnya suhu Bumi menyebabkan
orang-orang di Bumi terutama di negara-negara tropis memilih menggunakan AC
(Air Conditioner).
Padahal penggunaan AC pun juga berpengaruh
pada kerusakan lingkungan, karena AC menghasilkan gas CFC (klorofluorokarbon)
yang dapat menyebabkan lubang-lubang pada lapisan ozon.
Emisi CFC yang mencapai stratosfer
menyebabkan laju penguraian molekul-molekul ozon lebih cepat dari
pembentukannya, sehingga terbentuk lubang-lubang pada lapisan ozon.
Penggunaan kendaraan bermotor juga berkontribusi
besar pada rusaknya lingkungan. Banyak masyarakat terutama di kota-kota besar
menggunakan kendaraan pribadi sebagai transportasi.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik
(BPS) pada tahun 2014 terdapat sebanyak 114,2 juta kendaraan bermotor. Jumlah
tersebut selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Banyaknya kendaraan pribadi menyebabkan
semakin banyaknya polusi yang dihasilkan akibat asap kendaraan bermotor.
Padahal banyak dari masyarakat tersebut yang seharusnya tidak atau belum
membutuhkan kendaraan pribadi.
Sikap manusia yang terlalu tergantung pada
teknologi, malah membawa manusia kepada kehancuran. Walaupun banyak kemudahan
yang diberikan dengan teknologi, efek samping yang dihasilkan dari teknologi,
terutama terhadap lingkungan tidak bisa dianggap remeh.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Teknologi Membuat Manusia Merusak Alam, http://www.tribunnews.com/tribunners/2016/05/15/teknologi-membuat-manusia-merusak-alam.
Penulis: Muhammad Fauzan Pinantyo
Editor: Samuel Febrianto
·
KEINDAHAN
MEMBUAT KETENANGAN
Sungai Gangga (dalam bahasa Inggris disebut “Ganges”) diambil
dari nama Dewi umat Hindu yang dipercaya dapat memberikan kesuburan dan
membersihkan dosa. Dengan mandi air suci Sungai Gangga ini lah, maka segala
dosa dapat terhapus dan manusia dapat terselamatkan. Tak heran, abu jenazah
yang telah dikremasi dilarung di sungai ini sebagai penghantar masuk ke surga.
Sungai Gangga sendiri panjangnya 2.525 km mulai dari Himalaya
sampai ke Teluk Benggala, kira-kira sama jaraknya dari Banda Aceh ke Jakarta.
Meski sungai tersebut banyak melewati kota di India, namun pusatnya terdapat di
Varanasi. Kota itu disebut sebagai “Kota Tersuci di India” karena merupakan
tempat favorit Dewa Siwa. Ia juga merupakan kota tertua di dunia yang masih
ditinggali sejak abad 11 SM sampai saat ini.
MENURUT KELOMPOK KAMI:Keindahan
itu dirasakan setiap orang,keindahan terpancar dari sebuah object itu sendiri
karena.pancaran tersebut timbul karena keelokan dan rasa nyaman bagi semua yang
melihat dan memandangnya..keindahan membuat manusia menjadi lebih merasakan
ketenangan dan kepuasan yang luar biasa.
·
KEBERSAMAAN MENIMBULKAN KEINDAHAN
Kebersamaan (ilustrasi).
Foto: Blogspot.com
Oleh: DR A Ilyas Ismail
Dalam suatu perjalanan, Nabi SAW meminta para sahabat agar
memotong kambing. Mereka antusias merespons perintah Nabi. Sebagian mereka
berkata, “Aku yang menyembelihnya.”
Sebagian lagi berkata, “Aku yang mengupas (membuka) kulitnya.”
Yang lain berkata, “Aku yang memasaknya.” Nabi SAW juga ikut andil. “Aku yang
mencari kayu bakarnya.”
Mereka tak ingin Rasul yang amat dicintai ikut bekerja dalam
urusan masak-memasak ini. Namun, Nabi menolak, dan tak mau hanya menonton dan
duduk manis. “Aku tahu kalian bisa mengerjakan semua ini. Tapi, aku tak ingin
menjadi ‘istimewa’ (berbeda) dari kalian. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang yang menempatkan dirinya ‘berbeda’ daripada saudara-saudaranya
yang lain.” (Ithaf Al-Sadat Al-Muttaqin: 7/102).
Kisah ini sungguh menarik dan menggambarkan indahnya suatu
kebersamaan. Melalui kisah ini, Rasul ingin mengajarkan kepada kita beberapa
hal penting tentang kebersamaan dalam hidup. Pertama, soal pembagian peran dan
tanggung jawab (tauzi` al-adwar). Dalam suatu komunitas, setiap orang harus
jelas kedudukan dan tanggung jawabnya sehingga ia dapat mengambil peran dan
memberikan sumbangan bagi kemajuan bangsa.
Hal yang perlu dihindari ialah jangan sampai ada di antara
anggota masyarakat yang tinggal diam, tanpa dukungan dan partisipasi bagi
perjuangan umat. Dukungan itu, seperti diterangkan Nabi SAW dalam hadis lain,
bisa berupa harta dan kekayaan (material), pemikiran dan gagasan (intelektual),
tenaga (fisikal), dan juga doa (spiritual).
Dalam urusan ini, kalau Rasul mau, beliau tak perlu bersusah
payah. Tapi, beliau justru mengambil peran dan tanggung jawab paling berat,
yaitu mengumpulkan kayu bakar. Ini adalah teladan yang baik bagi para pemimpin.
Seorang pemimpin tentu harus berani mengambil tanggung jawab dan pantang
baginya membiarkan berbagai persoalan tanpa penyelesaian.
Kedua, soal kesantunan dalam pergaulan (husnul mu`asyarah).
Nabi mengajarkan bagaimana cara bergaul yang baik. Salah satu caranya ialah
dengan mencintai saudara kita seperti kita mencintai diri kita sendiri. (HR.
Bukhari dari Anas Ibn Malik).
Dalam bahasa modern, ajaran Nabi ini dinamakan “Golden Rule”
(Hukum Emas) yang menjadi pangkal keadaban. Hukum Emas ini disebutkan, “Berbuat
baiklah kamu kepada orang lain, seperti kamu mengharapkan orang lain berbuat
baik kepadamu.”
Ketiga, soal semangat kebersamaan (ruh al-jama`ah). Kerjasama
dalam satu tim (team work) memerlukan setidak-tidaknya tiga hal. Pertama, niat
(commitment) yang tulus untuk bekerjasama dan sama-sama bekerja. Kedua,
komunikasi dan ketersambungan (communication). Niat saja, tentu tak cukup.
Dalam satu kelompok, setiap orang perlu berkomunikasi satu dengan yang lain.
Ketiga, kolaborasi dalam merajut kebersamaan dalam perbedaan sehingga
melahirkan keindahan.
Semangat kebersamaan ini dikemukakan Nabi dalam sejumlah
hadis, di antaranya, “Orang mukmin terhadap mukmin lain seperti
bangunan, saling menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari dan Muslim
dari Abu Musa). “Allah memperkuat kebersamaan.” (HR. Tirmidzi
dari Ibnu Abbas).
·
KESERASIAN DENGAN PROYEK
Ambon, Tribun-Maluku.com : Pihak Kejaksaan tinggi (Kejati) Maluku mengisyaratkan,
tersangka kasus dugaan korupsi proyek dana keserasian di Dinas Sosial Maluku
tahun anggaran 2006 senilai Rp35,5 miliar, Andrias Intan, tidak kabur.
“Yang bersangkutan
berdasarkan pengembangan penyidikan tidak mengindikasikan kemungkinan kabur dan
sebaliknya kooperatif memenuhi panggilan jaksa untuk diperiksa,” kata Kepala
Seksi Penerangan, Hukum dan Humas Kejati Maluku, Bobby Palapia, di Ambon, Sabtu
(21/2).
Jaksa juga menyeret
Yohanis Fransiskus (pendamping desa Poka), pendamping desa Wayame, Abdul Rahman
Marasabessy dan pendamping Desa Batu Merah/STAIN Abdul Syukur Kaliki.
Dana keserasian tersebut
berjumlah Rp35,5 miliar lebih itu dari pemerintah pusat seharusnya tiap keluarga/kelompok
usaha mendapatkan bantuan Rp4 juta. Tetapi, atas kebijakan Venno hanya
diberikan masing-masing Rp1,3 juta – Rp1,8 juta setiap orang atau kelompok
penerima bantuan.(ant/tm)
·
ETALASE KEINDAHAN
MAHAKARYA HADIR DI BAYUWANGI BATIK VESTIVAL
Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi - Perhelatan Banyuwangi
Batik Festival (BBF) sukses digelar di Gelanggang Seni Budaya, Taman
Blambangan, Banyuwangi. Ajang fesyen tahunan yang rutin digelar sejak 2013 itu
menjadi etalase keindahan mahakarya batik Banyuwangi.
"Para perajin Banyuwangi dari tahun ke tahun berhasil membuktikan peningkatan kualitas desain dan kain batiknya. Batik Banyuwangi sudah naik kelas dan terkoneksi dengan industri fesyen nasional. Ini tanda cinta kita kepada batik sebagai budaya bangsa sekaligus instrumen ekonomi rakyat," ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas didepan ribuan penonton yang memadati Gesibu Blambangan, Sabtu (17/11/2018) malam .
Mengusung tema motif 'gedhegan' (anyaman bambu), BBF 2018 menghadirkam kolaborasi 11 desainer dan 15 perajin batik Banyuwangi serta 5 desainer nasional dan internasional.
"Para perajin Banyuwangi dari tahun ke tahun berhasil membuktikan peningkatan kualitas desain dan kain batiknya. Batik Banyuwangi sudah naik kelas dan terkoneksi dengan industri fesyen nasional. Ini tanda cinta kita kepada batik sebagai budaya bangsa sekaligus instrumen ekonomi rakyat," ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas didepan ribuan penonton yang memadati Gesibu Blambangan, Sabtu (17/11/2018) malam .
Mengusung tema motif 'gedhegan' (anyaman bambu), BBF 2018 menghadirkam kolaborasi 11 desainer dan 15 perajin batik Banyuwangi serta 5 desainer nasional dan internasional.
"Festival ini bukan cuma soal menampilkan batik di
panggung, tapi instrumen untuk menggerakkan partisipasi masyarakat, menumbuhkan
kewirausahaan batik, dan menggali kreativitas kita semua," paparnya.
Anas mengajak semua mencintai batik Banyuwangi dengan cara konkret, yaitu membelinya.
"Pernah ada riset, belanja pakaian jadi itu mencapai sekitar Rp 2,2 juta atau USD 153 per orang per tahun. Ini peluang bagi perajin batik, dengan populasi Indonesia sebesar 250 juta jiwa. Mulai sekarang mari beli batik lokal," ujar Anas.
Anas mengajak semua mencintai batik Banyuwangi dengan cara konkret, yaitu membelinya.
"Pernah ada riset, belanja pakaian jadi itu mencapai sekitar Rp 2,2 juta atau USD 153 per orang per tahun. Ini peluang bagi perajin batik, dengan populasi Indonesia sebesar 250 juta jiwa. Mulai sekarang mari beli batik lokal," ujar Anas.
Tangapan tentang kasus batik vestival yang ada di bayuwangi
ini membuat suatu penciptaan keindahan untuk membangun bangsa.dari artikel
tersebut dapat menimbulkan pemikiran positif dari masyarakat sehingga dapat
membuat suatu keindahan karya yang
muncul dari masyarakat luas.keindahan batik ini sangan berdampak positif bagi
kita sebagai pelajar untuk terus berkarya tanpa henti.



